Welcome !!!

Enjoy this blog, happy reading...
Salam kenal...\(^_^)/

Rabu, 06 Februari 2013

Komentar Pribadi tentang Kisah "Naira-Utara" dalam Buku Cinta di Ujung Jari


Sebenernya, beberapa dari kita, bahkan saya sendiri, mungkin pernah mengalami kisah klasik yang sama kayak Naira dan Utara. Tentang rasa yang terpendam dan harap yang selalu tumbuh menjadi lebih besar sebelum semua rasa dan harap itu pada akhirnya hanya membawa kita pada sesuatu yang mereka sebut kecewa, karena semesta seakan tak mendengar, tak melihat, dan seolah mempermainkan. Tapi mungkin sebagian orang malah menamakannya lega. Lega, karena akhirnya bisa terbebas dari rasa yang tidak seharusnya atau mungkin belum saatnya. Lega, karena kita bisa belajar mengikhlaskan sesuatu dan belajar untuk tetap move on.

Gaya nulis Mbak Nayasa yang memenggal-menggal momen-momen penting Naira dan Utara ke dalam “percik-percik” ngebuat gue seolah jadi saksi mata kisah mereka. Kisah ini terlalu nyata untuk disebut fiksi. Entah ini tadinya adalah kisah nyata atau bukan, tapi gue percaya kalo di suatu tempat di luar sana, ada 2 orang yang sedang melakoni kisah ini, entah namanya Naira-Utara atau bukan.. (maaf, maksa :D )

Kesimpulan yang bisa gue ambil dari cerita Naira-Utara ini adalah, kita terkadang beranggapan bahwa ketika kita selalu dipertemukan dengan orang yang sama dalam berbagai kegiatan yang sama secara kebetulan (walopun gue percaya gak ada yang kebetulan di dunia ini :D ), dan kemudian suka atau parahnya sampai pada tahap sayang, rasa harap itu mulai hadir dan semakin berkembang seiring dengan semakin seringnya frekuensi ”pertemuan-kebetulan” itu. Padahal mungkin, ada garis takdir lain yang bersinggungan dengan garis takdir kita, tapi luput dari perhatian kita, karena fokus kita sudah salah dari awal. Hm, btw.. ini bukan curhat, gue cuma mencoba menganalisis keadaan yang ada, hhe.hhe :D

Dan gue paham banget sama deskripsi muka Naira yang selalu memerah tiap diajak ngobrol atau cuma sekedar di-SMS sama Utara. Gue paham banget situasi seperti itu :D … Selain itu, setting tempat yang nyebut-nyebut Masjid Salman malah ngingetin gue sama seseorang yang sangat mencintai masjid ini. Seseorang yang tulisan-tulisannya sangat saya suka dan kagumi.. Upsss.. Gue rasa komen gue buat tulisan Mbak Nayasa segitu aja, takutnya ntar malah ngelantur gak jelas arah dan tujuannya :D

Note : Buat komentar lengkap gue tentang novel ini, silahkan langsung diliat di http://bicarasoalnovel.wordpress.com/2013/02/06/cinta-di-ujung-jari/ ^_^!v

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar