Welcome !!!

Enjoy this blog, happy reading...
Salam kenal...\(^_^)/

Minggu, 31 Maret 2013

Untuk Koruptor Terhormat

Dear, rekan sejawat..
Ya, orang-orang selalu menghubungkan namaku dengan segala kelakuanmu.
Jadi, mau tak mau aku pun harus berlaku serupa.
Mengikhlaskan hati untuk memanggilmu dengan sebutan "rekan sejawat".
Mengabaikan gidikan jijik setiap bayanganmu terlintas di benakku.
Bukan karena penampilan dan wajahmu sekotor dan semenjijikkan rupa dan tampilanku. 
Tapi, karena (mungkin) hanya aku dan Tuhan yang tahu kalau aku tak pernah rela disamakan denganmu.
Mungkin kau pun demikian. Ah, entahlah.

Kata mereka di luar sana, namaku adalah julukan yang tepat untuk menganalogikanmu.
Sebutan yang tepat untuk kau yang juga punya kebiasaan "mengerat" dan "menggerogoti".
Pengandaian yang pas, karena tingkah laku kotormu serupa dengan jalan hidupku yang tak bersih dan menjijikkan.
Ah, peduli apa mereka kalau sejatinya kita tak pernah sama.
Bukan hanya karena aku tak ingin lagi namaku dicemarkan untuk menggambarkanmu.
Bukan karena aku takut eksistensiku di benak mereka menjadi kabur karena setiap namaku disebut, yang terlintas di benak mereka adalah kau, bukan aku, si pemilik nama sebenarnya. Bukan.
Bukan pula karena aku ingin dihargai sebagai layaknya makhluk ciptaan Tuhan lainnya.
Tapi, aku hanya ingin mereka tahu kalau kita ini berbeda.
Ya, mungkin aku memang makhluk pengerat yang menggerogoti makanan yang mereka simpan tanpa sepengetahuan mereka. Tapi, aku hanya mengambil apa yang mereka abaikan. Apa yang mereka telantarkan. Apa yang tidak mereka coba simpan dengan sebaik-baiknya.
Dan jalan hidupku memang seperti itu. Aku ditakdirkan untuk bertahan hidup seperti itu.
Tapi kau???
Kau mungkin lebih tahu kalau kau tidak seperti itu, bukan?
Kau mengambvilapa pun yang bisa kau ambil. Tak peduli, apakah itu ditelantarkan, diabaikan, atau memang telah disimpan dengan baik oleh pemiliknya. Kau tak cuma mengambil, mengerat, dan menggerogoti makanan, tapi uang, tenaga, waktu, kepercayaan, dan entahlah apa lagi.
Aku tak pernah tersenyum apalagi tertawa menjijikkan ketika tertangkap. Berbeda dengamu, bukan?
Dan kita sama-sama tahu bahwa motifmu tentu sangat berbeda dengan motifku.
Jika aku melakukannya untuk bertahan hidup, sebagaimana yang dilakukan oleh pencuri ayam atau nenek yang mencuri mangga untuk cucunya yang kelaparan (ah, entah kenapa aku merasa tak semulia orang-orang ini), maka yang kau lakukan adalah hanya karena rakus, serakah, dan ketidakberdayaanmu melewati ujian kehidupan. Maaf, sepertinya aku mulai bertingkah seumpama sang bijak.

Dear, koruptor terhormat..
Terkadang aku kesal, marah, dan muak.
Merasa tak adil dengan kehidupan ini.
Tapi, bukan hidup namanya jika segala sesuatu berjalan selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan, kan?
Aku hanya berharap, semoga suatu hari nanti mereka sadar kalau kita ini berbeda, karena sejak awal kita memang tak pernah sama.
Semoga akan datang waktunya ketika nama makhluk (yang kata mereka pengganggu dan pencuri) ini tak lagi disandingkan dengan kelakuanmu dan kesegalaanmu.

Sekian dan terima kasih.



Salam hormat,
"Rekan sejawatmu" : TIKUS (!)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar